Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Menghitung Cash Flow Per Share Dalam Investasi Saham

 

Menghitung Cash Flow Per Share Dalam Investasi Saham
Menghitung Cash Flow Per Share Dalam Investasi Saham

 Cash Flow Per Share biasa disingkat CFPS, berhubungan tentang investasi yang masuk ke dalam sebuah perusahaan. CFPS sering digunakan oleh investor untuk melakukan perbandingan antara arus kas dan harga saham. Dari tindakan ini, investor akan menentukan untuk membeli, menahan, atau menjual investasinya di perusahaan tersebut.

Agar lebih mudah memahami tentang CFPS, Anda dapat mengetahui lebuh lanjut pengertian, fungsi, dan cara menghitungnya.


Apa Itu Cash Flow Per Share?

Menurut laman invesbro.id, Cash Flow Per Share adalah penghasilan atau aliran uang masuk yang sudah dipotong pajak untuk setiap lembar saham. Namun, arti secara singkatnya CFPS adalah arus dana yang masuk dan juga keluar yang berasal dari aktifitas bisnis tertentu. 

Arus kas masuk biasanya berasal dari uang pelanggan atau pengguna jasa. Jika pelanggan belum melunasi transaksi, maka Sebagian arus kas diambil dari piutang. Sedangkan, pada arus kas keluar didapat dari pembayaran atau pengeluaran untuk produksi, sewa, pajak, dan angsuran bulanan. Data arus kas keluar juga diperoleh dari pembayaran utang personal maupun dagang. Tahap akhirnya, semua data dikalkulasi untuk dijadikan komponen CFPS.

Nilai CFPS sebagai aliran kas saham  tidak dapat direkayasa seperti Earning Per Share (EPS). Hal ini menunjukkan bahwa nilai CFPS dianggap lebih akurat serta bisa diandalkan. Metrik ini kerap dipakai dalam analisis fundamental, berbeda dengan teknikal yang menggunakan teknik seperti moving average.


Fungsi Cash Flow Per Share (CFPS)

Cash Flow Per Share (CFPS) selain memiliki fungsi sebagai indikator kemampuan perusahaan dalam membayar dividen, CFPS juga memiliki beberapa fungsi lain, diantaranya:

  • Memberikan kemudahan bagi perusahaan untuk memprediksi kuantitas dan waktu yang dibutuhkan dalam mewujudkan target arus kas di waktu yang akan datang.

  • Menunjukkan bukti adanya perbedaan antara arus kas dengan laba bersih yang datang dari kegiatan operasional.

  • Menampilkan transaksi dalam satu periode, sebagai contoh adalah investasi dan pendanaan. Oleh karena itu perusahaan dapat melihat naik turunnya kinerja perusahaan sebagai rujukan perbaikan di masa berikutnya.

  • Mencegah timbulnya rekayasa keuangan yang dapat menjatuhkan reputasi perusahaan.


Cara Menghitung Cash flow Per Share

Anda dapat menemukan nilai Cash Flow Per Share secara akurat dengan cara menghitung secara rinci arus kas dan total saham yang disebarkan ke publik. Setelah memperoleh data, Anda dapat menghitung CFPS menggunakan rumus sebagai berikut:

CFPS  = (arus kas – dividen pilihan ) / total saham yang beredar

Agar Anda dapat memahami secara jelas rumus di atas maka Anda dapat memperhatikan contoh berikut:

Pada periode kuartal keempat, PT Maju Jaya melaporkan arus kas sebesar Rp 55 miliar. Lalu, perusahaan membagikan dividen preferen senilai Rp 6 miliar. Terdapat 10 juta saham yang diedarkan pada kurun waktu tersebut. Maka rumus CFPSnya adalah sebagai berikut:

CFPS yang dihasilkan =(Rp 55.000.000.000 – Rp 6000.000.000 ) / 10.000.000 lembar = Rp 4.900

Setelah mendapatkan CFPS, maka Anda dapat segera mencari price to cash ratio (P/CF Ratio), yaitu indikator pembanding aliran kas. Rasio akan berbanding lurus dengan harga saham. Apabila harga saham tinggi, perusahaan tidak dapat menciptakan arus kas yang cukup.

Oleh karena itu, Anda harus berusaha agar nilai rasio P/CF rendah, sehingga menghasilkan arus kas tinggi. Jika demikian, maka investor akan tertarik untuk melakukan investasi di perusahaan Anda. 

Sebagai contoh, Anda dapat memperhatikan cara menghitung rasio P/CF setelah mendapatkan nilai CFPS, sebagai berikut:

Pada tanggal 23 April 2021, PT Abadi memiliki saham dengan harga Rp 4000 per lembar. Sedangkan Cash Flow Per Share perusahaan Abadi sekitar Rp 500. Berapa rasio P/CF PT Abadi tersebut?

P/CF ratio = Rp 4000/ Rp 500 = 8

Dari rumus di atas didapatkan P/CF ratio atau rasio harga terhadap arus kas per saham adalah sebanyak 8 kali. Maka dapat disimpulkan, PT Abadi termasuk overvalued. Namun, hal ini tidak menjadi masalah, karena bisa saja investor maupun market menganggap saham perusahaan pantas berada di atas harga normal.

Hal ini, berbanding terbalik, jika rasio P/CF berjumlah kurang dari delapan, maka harga saham berada di posisi undervalued. Pada waktu undervalued, kesempatan Anda untuk mengembalikan kepercayaan investor agar bersedia berinvestasi di perusahaan.


Cash Flow Sebagai Indikator Penting Saham

Cash Flow Per Share (CFPS) memiliki peran yang sangat penting dalam dunia investasi terutama saham. CFPS menjadi indikator penting dalam menentukan harga saham yang akan diperjualbelikan di pasar saham. 

Mengetahui CFPS membantu Anda sebagai investor untuk memiliki pengalaman berinvestasi yang lebih, maupun menambah keuntungan. Jika Anda ingin mengambil alih mayoritas saham di suatu perusahaan atau berencana untuk hold forever saham perusahaan atau berencana. Saham perusahaan untuk kepentingan tertentu seperti mesin dividen.

Perhitungan cash flow tidak mudah dan dinilai cukup rumit. Contohnya, Anda hanya dapat menggunakan price to earnings ratio untuk mengukur variasi secara lebih efisien. Metode price to earnings juga lebih terpercaya dan sudah sering digunakan oleh para trader saham dan investor. Faktor ini muncul karena dengan metode tersebut mudah dimanipulasi sehingga hasil analisa menjadi lebih akurat dan bisa lebih dipertanggungjawabkan.


Kesimpulannya dari pembahasan di atas, sebelum Anda melakukan kegiatan investasi, Anda harus tahu apa Itu Cash Flow Per Share? Setelah itu Anda bisa menggunakan rumus yang ada untuk menentukan Cash Flow Per Share dari suatu saham. Jangan lupa juga untuk mengetahui Cash Flow Ratio untuk menciptakan arus kas yang cukup. 

Posting Komentar untuk "Menghitung Cash Flow Per Share Dalam Investasi Saham"