Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Pengertian Akun

Bila Akuntan Forensik Bekerja

Bila Akuntan Forensik Bekerja
Bila Akuntan Forensik Bekerja

Bila Akuntan Forensik Bekerja


“Perampok-perampok itu tidak membutuhkan pistol. Pensil dan kertas sudahlah cukup baginya. Peluang dan kesempatan merupakan pendorong utama untuk mencuri. Cukup dengan meletakkan beberapa nol di belakang sebuah angka. Akibatnya, dapat memunculkan sesuatu yang menakjubkan. Kerugian yang besar dan berlarut-larut akan terus berlangsung bagi perusahaan. Ini menunjukkan betapa moral menjadi sesuatu yang sangat rendah. Mereka rela dipenjara. Lantaran di penjara pun uang akan tetap mengalir menambah rekening banknya jutaan dollar.”


Kecurangan seperti kutipan di atas merupakan salah satu obyek pemeriksaan yang menjadi sasaran se- orang akuntan forensik. Dialah seorang profesional yang mampu mendeteksi kemana saja hasil jarahan disembunyikan. Dalam menjalankan kegiatannya, seorang akuntan forensik sering diminta bantuannya oleh kelompok-kelompok tertentu. Misalnya, pengacara, kepolisian, perusahaan asuransi, pemerintah, bank, pengadilan, dan perusahaan bisnis. Begitu pula sebaliknya, untuk menyelesaikan suatu kasus, tak jarang ia harus melakukan koordinasi dengan para ahli lainnya. 

Termasuk, detektif swasta, penguji dokumen forensik, konsultan, bahkan insinyur. Bantuan akuntan forensik, menurut Alan Zysman, biasanya memang dibutuhkan dalam hal-hal yang berkaitan dengan akuntansi forensik dan dukungan litigasi (litigation support). Aktivitas akuntansi forensik hampir serupa dengan pekerjaan akuntan pada umumnya. Bedanya, mereka tidak hanya mereviu situasi faktual dan melengkapi bukti laporan keuangan, tetapi bila diperlukan juga memburu dan menyelamatkan harta kekayaan klien. 

Perlindungan dan pemulihkan aset seperti itulah merupakan hal yang sering dibutuhkan oleh klien. Bahkan, lanjut Zysman, proses pemulihan aset seringkali a sampai dengan tindakan penuntutan kriminal. Berikutnya, untuk dukungan litigasi, audit forensik diarahkan untuk membantu mencari dokumen yang diperlukan dalam mendukung atau membantah suatu klaim di pengadilan. Untuk itu, akuntan harus secermat mungkin me-review dokumen yang relevan dan akurat. Dengan dokumen yang andal, akses terhadap kasus dan cakupan kerugian dapat teridentifikasi dengan baik, kata Zysman. Selanjutnya, tambah pakar audit kecurangan itu, bila temuan audit telah didapat, akuntan forensik akan mendampingi temuannya hingga pada tahap pengujian temuan (examination for discovery). 

Pada tahap ini, ia membantu dalam perumusan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan hakim yang berkaitan dengan bukti-bukti keuangan atas temuannya. Dengan demikian, kata Zysman, isu-isu keuangan yang biasanya muncul di sekitar kasus dapat terjawab dengan benar dan tuntas. Tidak selesai sampai di situ, apabila terjadi bantahan dari pihak lawan, akuntan forensik juga bertugas untuk mereviu bantahan itu. Bantahan itu kemudian dianalisis, baik kekuatan dan kelemahannya serta menetapkan langkah-langkah yang harus diambil. Untuk dapat mengklasifikasikan hal itu, tak jarang mereka mengadakan diskusi dan negosiasi dengan pihak lawan. Bila tetap tidak ada kesepakatan dan kesamaan pendapat maka ia pun harus turun menelusuri pembuktian dari pengacara (ahli) pihak lawan. Begitu juga sebaliknya, tambah Zysman, mereka harus siap pula menghadapi pengujian bukti silang terhadap dirinya. 

Setiap penugasan akuntan forensik tampaknya memang mempunyai keunikan sendiri. Rangkaian aktivitasnya disesuaikan dengan kondisi nyata dan prosedur dari setiap kasus yang ditangani. Walaupun demikian, menurut Zysman, secara umum tahapan penugasan akuntan forensik meliputi beberapa hal. Seperti, pertemuan dengan klien, pengecekan konflik, penyelidikan awal, pengembangan rencana kegiatan, mencari bukti yang relevan, melakukan analisis, menyiapkan laporan hingga menjadi saksi ahli di pengadilan bila diperlukan.

(Baca: Tahapan Penugasan Akuntan Forensik).

Cakupan Audit Akuntan Forensik. Jasa akuntan forensik banyak digunakan dalam menyelesaikan kasus-kasus besar di luar negeri. Misalnya, mulai dari pelacakan kekayaan O.J. Simpson, skandal Daiwa Bank Ltd. Jepang, Barings Bank Inggris, dan kasus Bank of Credit and Commerce International (BCCI). Mereka itu memang melakukan kegiatan yang meliputi skala luas dalam penyelidikannya dan menjangkau berbagai macam industri. Praktik dan kedalaman analisis akuntan forensik diarahkan pada pengungkapan kasus. Sehingga, dari kasus yang samar-samar bisa dibawa menuju ke titik terang penyelesaian. 

Namun demikian, variasi cakupan aktivitas akuntan forensik, menurut Zysman, ada beberapa hal. 

Pertama, penyelidikan forensik/kriminal. 

Penyelidikan forensik sering berhubungan dengan penyelidikan kriminal yang sebagian merupakan tugas kepolisian. Sebagai contoh, seorang akuntan forensik mungkin diperlukan oleh kepolisian dan pengacara (law society). Dalam hal ini, laporan akuntan forensik disajikan dengan tujuan untuk menyajikan bukti yang profesional, ringkas, lengkap dan berarti. 

Kedua, persengketaan pemegang saham dan para sekutu. 

Penugasan ini meliputi sebuah analisa rinci dari isu yang diperdebatkan para pemegang saham atau sekutu (partner). Akuntan forensik diminta untuk mengkuantifikasikan catatan akuntansi selama beberapa tahun. Sebagai contoh, persoalan yang sering muncul di antara mereka, mengenai pembagian kompensasi dan keuntungan yang diterima oleh setiap pemegang saham atau sekutu (partner) yang bersengketa. Hasil penghitungan yang dilakukan akuntan forensik, menurut Zysman, sering digunakan sebagai dasar pembagian kompensasi seperti itu. 

Ketiga, klaim kerugian asuransi jiwa dan kecelakaan kendaraan bermotor. 

Peningkatan klaim asuransi jiwa dan kerugian kecelakaan kendaraan bermotor terkadang merupakan hasil rekayasa. Untuk membuktikan bahwa klaim dari nasabah itu memang sesungguhnya, pihak perusahaan asuransi sering minta bantuan akuntan untuk meneliti dan mengkuantifikasikan nilai kerugian yang diderita. Hal ini sangat didukung oleh masyarakat di Kanada. Perubahan legislatif di Ontario (Kanada), menurut Zysman, terjadi secara radikal. Berdasarkan perundang-undangan yang baru, katanya, peran akuntan forensik semakin banyak dilibatkan dalam setiap bentuk kasus. Kasus menghitung kerugian asuransi, frekuensinya cukup banyak, seperti malpraktik rumah sakit dan penolakan pasien. 

Keempat, kegagalan usaha perusahaan asuransi.

Pelaksanaan kegiatan asuransi seringkali berbeda dengan kebijakan yang ditetapkan. Kelemahan itu, ujar Zysman, bisa muncul dari dalam maupun luar perusahaan, yang dampaknya dapat menyebabkan kegagalan usaha. Untuk itu, akuntan forensik sering diminta untuk mereviu dan menyelidiki secara rinci, baik aplikasi kebijakan maupun metode penghitungan kerugian yang dilakukan atas sebuah klaim. Selain itu, ia juga diminta untuk membantu menilai perspektif dari nasabah perusahaan asuransi. Contoh dari penugasan ini meliputi klaim: kegagalan bisnis, kerugian harta, dan tingkat kesehatan nasabah. 

Kelima, penyelidikan kecurangan usaha/karyawan.

Penyelidikan ini bisa meliputi: penelusuran pendanaan, identifikasi dan pemulihan aset, kolusi dan korupsi. Sedangkan, penyelidikan kecurangan karyawan sering meliputi prosedur untuk menentukan: keberadaan, sumber, perluasan kecurangan dan identifikasi individu yang terlibat. Penyelidikan ini sering menggunakan wawancara kepada individu yang mempunyai akses terhadap pendanaan. Selain itu, juga melalui riviu rinci dan cermat dari dokumen bukti, tambah Zysman. 

Keenam, sengketa perkawinan (Matrimonial Disputes).

Perceraian sering melibatkan akuntansi forensik untuk melakukan penelusuran, pencarian lokasi, dan evaluasi atas kekayaan. Harta dari perceraian itu dievaluasi dan dinilai yang bentuknya bisa berupa: usaha, kekayaan atau harta lainnya. (Baca: Melacak Harta OJ Simpson). 

Ketujuh, kerugian usaha. 

Penugasan akuntan forensik yang melibatkan kerugian usaha meliputi penyelesaian kasus: persengketaan kontrak, klaim konstruksi, penyitaan, klaim hutang produk, pelanggagaran merek dagang dan paten, dan pelanggaran perjanjian. 

Kedelapan, kelalaian profesional (professional negligence)

Penyelidikan ini sering menggunakan dua pendekatan yang saling melengkapi. Secara teknis, penyelidikan diarahkan untuk mengetahui pelanggaran atas GAAP, GAAS atau standar lainnya yang digunakan dalam praktik. Sedangkan, pendekatan kedua ditujukan untuk mengkuantifikasikan kerugian. Jika seorang profesional yang disinyalir melakukan kelalaian itu, menurut Zysman, maka akuntan forensik sering menggunakan kedua pendekatan itu. 

Jika masalahnya tidak melibatkan profesional, akuntan forensik biasanya diminta hanya untuk melakukan kuantifikasi kerugian saja. 

Kesembilan, mediator dan penengah (mediation and arbitration).

Untuk mengenalkan isu-isu dan prosedur hukum, beberapa akuntan forensik membentuk pelatihan khusus yang disebut Alternative Dispute Resolution (ADR). ADR melayani hal-hal yang berkaitan dengan jasa arbitrasi dan perantara dalam membantu menyelesaikan permasalahan. (sy)

Posting Komentar untuk "Bila Akuntan Forensik Bekerja"