Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Akuntansi

6 Teori Struktur Modal: Teori ini yang paling baik?

Setidaknya, ada 6 teori struktur modal yang banyak dikenal. Struktur modal adalah persentase sumber dana perusahaan: hutang dan modal (saham/kepemilikan) perusahaan. Atau perbandingan antara: modal sendiri dan modal dari hutang.

Modal bisa berasal dari: setoran modal (saham) dan laba ditahan.
Utang bisa berupa: obligasi dan hipotik. Atau wesel

Didalam laporan keuangan, struktur modal akan terlihat seperti ini: struktur modal perusahaan
Yang bertanda merah: itulah struktur modal.

Ya. Hanya itu.

Tapi pembahasannya: tidak "hanya itu" itu. Lebih kompleks. Tidak sesederhana kelihatannya.

Bahkan pengaruhnya: merubah harga saham. Saham bisa naik, bisa turun. Bahkan bisa membuat: kegagalan perusahaan.

Pengelola struktur modal sangat penting. Sampai muncul ahli ahli manajemen. Yang fokus mempelajari struktur modal perusahaan. Hingga memunculkan teori struktur modal.

Teori Struktur Modal

Setidaknya, ini teori struktur modal yang sering dijadikan rujukan. Oleh ekonom modern. Yang dicetuskan oleh para ahlinya.
  1. Teori pendekatan tradisional
  2. Teori pendekatan MM (Modigliani dan Miller)
  3. Teori trade off
  4. Teori pecking order
  5. Teori asimetri informasi dan signaling
  6. Teori keagenan
Mari kita bahas satu persatu

1. Teori Pendekatan Tradisional

Teori pendekatan tradisional ini mungkin: mbahnya teori struktur modal. Ini teori awalnya: untuk mencari struktur modal optimal. Maksudnya, struktur modal yang membuat: harga saham naik paling tinggi.

Struktur modal perusahaan: fleksibel. Selalu bergerak. Persentase utang dan modalnya: dibuat berubah. Tidak statis. Sampai ketemu ini: nilai perusahaan yang paling tinggi. Dicari komposisi yang pas. Sampai ketemu: stop. 

teori struktur modal tradisional

Tapi tidak dalam kenyataannya. Struktur modal yang optimal susah dicari. Atau mungkin tidak bisa ketemu.

Seperti memasak tempe yang paling enak. Bumbunya: bawang putih dan garam. Seberapa banyak bawang putihnya? berapa ons garamnya? agar rasa tempenya menjadi yang paling enak. Jika bawang putihnya ditambah: belum tentu tambah sedap. Jika garamnya ditambah: bisa jadi lebih enak. Bisa jadi asin.

Dan ketika tempe sudah jadi: ternyata selera orang berbeda. Struktur modal ternyata lebih ruwet dibandingkan bumbu tempe.

Tidak ada yang bisa menentukan: titik bahwa nilai perusahaan telah sampai di puncak. Tidak ada yang bisa memastikan: nilai perusahaan ada di titik paling mahal. 

Mungkin saja pemegang saham merasa: nilai sahamnya sudah dititik paling tinggi. Tapi mungkin saja bisa lebih tinggi lagi jika: utangnya ditambah atau dikurangi. Siapa yang tahu.

Mungkin ini kelemahan teori ini: tidak detail menjelaskan caranya. Pokoknya: cari.

Benar benar teori yang tradisional.

Namun teori pendekatan tradisional ini adalah pemicu: munculnya teori teori baru. Munculnya peneliti peneliti baru. Munculnya ahli ahli baru. Tentang struktur modal. Tujuannya sama: mencari struktur modal optimal yang bisa dicapai perusahaan.

2. Teori Pendekatan Modigliani and Miller (Teori MM)

Teori struktur modal MM ada dua: teori MM tanpa pajak dan teori MM dengan pajak. Kedua teori ini diciptakan oleh orang yang sama. Tapi keduanya sama sekali berbeda. Tidak sama. 

# Teori MM Tanpa Pajak

Nama lengkapnya: Franco Modigliani. Orang Amerika kelahiran italia. Dan Merton Howard Miller. Kelahiran Boston, Amerika. Keduanya sama sama cerdasnya. lulusan Carnigie Mellon Univercity. Kampus di negara bagian Pennsylvania, Amerika. Disana, keduanya mengambil jurusan: Administrasi industri (GSIA).

Pengalaman bisnis mereka memang minim. Tapi mereka berdua aktif melakukan penelitian. Terutama yang berhubungan dengan dunia bisnis. Hingga pada tahun 1958, mereka menemukan teori yang mereka namakan: M&M Theorem (teori MM).

Sesuai dengan singkatan nama keduanya: MM. Gara gara teorinya ini, mereka beruda bahkan mendapatkan nobel ekonomi.

Teori yang mereka paparkan: mengejutkan. 

Katanya: (jangan kaget) struktur modal TIDAK BERPENGARUH terhadap nilai perusahaan. Saya ulangi: tidak mempengaruhi.

Jelas yang mereka katakan bertentangan dengan teori tradisional. Yang sudah lebih dulu populer.. Yang telah dipercaya banyak orang. Tentu saja: teori ini banyak yang menentangnya. Namun keduanya tetap pada pendiriannya.

Menurutnya: nilai perusahaan dipengaruhi oleh kinerja perusahaan itu sendiri. Alias keuntungan yang dihasilkan dan resikonya. Tidak dipengaruhi oleh faktor yang lain. Termasuk struktur modalnya.

Kinerja perusahaan bagus: nilai perusahaan naik
Kinerja perusahaan jelek: nilai perusahaan turun

Diutak atik bagaimanapun struktur modalnya: sama sekali tidak berpengaruh.

Ternyata: asumsi yang dipakai diteori ini: dinilai tidak reliable. Begini asumsinya:
teori struktur modal MM
infografis: teori struktur modal mm tanpa pajak

# Kelemahan Teori MM Tanpa Pajak

Asumsi tersebut dikritik. Hampir semua asumsinya: sulit ditemui. Di dunia nyata.

Terutama asumsi ini: tidak ada pajak. Pajak diabaikan. Dalam perhitungan.

Hampir semua negara di dunia: terdapat pajak. Apalagi pajak yang berkaitan dengan laba perusahaan. Hampir pasti ada.

Memang ada beberapa negara yang bebas pajak. Umumnya negara negara kecil. Kecil sekali. "tidak ada" dalam peta. Penduduknya sedikit. Itupun jumlahnya sedikit sekali. Hanya ada beberapa. Contohnya ini: Cayman Islands.

Pernah mendengar? kebanyakan belum. Jumlah penduduknya: 60 ribu jiwa. Jumlah itu lebih kecil daripada jumlah penduduk Kraksaan. Sebuah kecamatan kecil di kabupaten probolinggo. Jatim.

Atau jika seluruh penduduknya berkumpul Gelora Bung Karno: masih kurang. Kapasitasnya lebih dari 80 ribu.

Coba anda cari di google map lokasinya. Dinegara itu: banyak perusahaan besar berdiri. Tapi hanya suratnya saja. Akta lahirnya saja. Kegiatan usahanya ada ditempat lain. Dinegara lain. Akta perusahaannya sengaja didirikan dinegara itu. Agar bebas pajak.

Memang ada negara negara kaya. Yang juga bebas pajak. Tapi juga tidak banyak. Seperti swiss, dan negara negara minyak. Seperti Bahrain, Yaman, Qatar. Tapi yang bebas pajak adalah penghasilan rakyatnya. Pajak korporasi: tetap ada.

Jadi asumsi yang dipakai MM tidak relevan. Dengan kondisi yang ada. Bisa dipakai: hanya dinegara negara tertentu. Yang jumlahnya 1-2 saja.

# Teori Struktur Modal MM dengan Pajak

Setelah banyak dikritik. Dan dipikirkan kembali. Tahun 1963: Modigliani dan Miller merevisi teorinya. Tidak lagi mengabaikan pajak. Pajak dimasukkan kedalam perhitungan teorinya.

Hanya menambah variabel hutang: teorinya beda.

Hasilnya: hutang bisa mempengaruhi nilai perusahaan. Dengan kata lain: struktur modal mempengaruh saham.

Tidak sama dengan teori sebelumnya. Yang mereka buat sendiri.

Teorinya begini: hutang bisa membantu perusahaan menghemat pajak.

Pajak adalah kewajiban kepada negara. Artinya: ada aliran kas keluar. Semakin besar pajaknya: semakin besar alian kas keluar.

Semakin besar kas keluar: semakin menurun nilai perusahaan.

Hutang ternyata bisa membantu alur itu. Membantu aliran kas keluar itu. Membantu menaikkan nilai perusahaan itu. Senjatanya ini: bunga utang.

Disemua aturan tentang pajak dinegara, sedunia: bunga utang mengurangi pajak. Bunga utang akan  menguranig laba setelah pajak (EBIT).

Pajak yang berkurang: aliran kas keluar berkurang.

Aliran kas keluar berkurang: nilai perusahaan meningkat.

Kesimpulan teori MM dengan pajak: semakin banyak utang, semakin tinggi nilai perusahaan.

Untuk menaikkan nilai perusahaan, saran teori MM ini: perbanyak hutang.

# Kelemahan Teori MM dengan Pajak

Teori MM pertama yang mengabaikan pajak: dikritik.

Teori MM yang memperhitungkan pajak: dikritik

Yang dikritik adalah ini: mengabaikan risiko hutang. Ini kelemahannya.

MM tidak memperhatikan bahwa ada risiko disetiap hutang: risiko gagal bayar.

MM menyarankan: perbanyak utang. Agar nilai perusahaan meningkat. Tanpa melihat bahwa: ada risiko pada utang.

Semakin besar utang: semakin besar risiko.

Semakin besar risiko: nilai perusahaan semakin turun. Begitu kira kira maksud dari para pengkritik.

Bahwa: utang ada batasannya. Di titik tertentu. Ini yang tidak diperhatikan oleh MM.

3. Teori Pecking Order

Majalah bisnis dunia: Fortune. Hampir setiap tahun merilis: orang terkaya dunia, negara terkaya, dan semua ter - ter lainnya. Termasuk juga perusahaan terkaya dunia.

Tahun 1961 Majalah itu merilis: 500 perusahaan terkaya didunia. Ada orang yang penasaran. Mengapa mereka bisa kaya. 500 perusahaan itu kemudian diteliti: nilai perusahaannya dan komposisi struktur modalnya. Juga aktivitas keuangannya.

Penilitinya: Gordon Donaldson. Orang skotlandia. Inggris Raya. Tidak semua perusahaan diteliti. Hanya sampelnya saja: 175 perusahaan.

Hasilnya. Gordon menemukan: kemiripan aktivitas pendanaan. Yang mirip adalah: urut urutan sumber dana nya.

Ternyata, pendanaan perusahaan ada urutannya. Diawali dari: yang tidak berisiko kemudian yang berisiko.

Kira kira, urutannya begini
teori struktur modal pecking order

# Pilihan Pertama: Laba Ditahan

Pilihan pendanaan yang tidak berisiko pertama: pendanaan dari internal perusahaan.

Pendanaan dari internal: laba ditahan. Tidak ada yang lain.

Laba ditahan adalah yang paling tidak berisiko. Bahkan ada yang bilang: tidak punya risiko.

Laba ditahan adalah sisa laba perusahaan di tahun sebelumnya. Yang tidak dibagikan menjadi dividen.

Sisa laba digunakan. Untuk ekspansi perusahaan. Tentu tidak mengandung risiko. Bahkan tanpa perlu mengeluarkan biaya modal. Untuk mendapatkannya. Gratis.

Bagaimana kalau tidak punya laba ditahan? atau laba ditahan tidak mencukup jumlahnya?

Pilihan berikutnya: pendanaan dari eksternal.

Pendanaan dari eksternal: ada banyak. Yang dipilih dulu: yang punya risiko paling rendah. Kalau tidak ada: pilih yang risikonya lebih tinggi. Begitu seterusnya.

Kedua: Utang

Pendanaan eksternal dengan risiko rendah yang pertama: utang.

Risiko hutang tidak besar. Tidak menyebabkan harga saham turun. Begitu kira kira kata teori ini.

Alasannya:
  1. Hutang bisa jadi leverage (pengungkit) performa perusahaan.
  2. Jumlah dan persentase saham beredar tetap. Tidak berubah. Jumlah saham milik investor: tidak akan berkurang.
  3. Bunga menjadi pengurang pajak.
Setidaknya, itu 3 alasan utama: risiko utang lebih rendah.

Ketiga: Penerbitan Saham Baru

Manajer keuangan yang menganut paham ini: menghindari penerbitan saham baru. Katanya, bisa menurunkan nilai perusahaan.

Alasannya: menerbitkan saham baru: jumlah saham beredar akan bertambah.

Jika pemegang saham sebelumnya tidak membeli: persentase kepemilikannya berkurang. Hal ini tidak diinginkan oleh investor. Bisa jadi: mereka akan melepas sahamnya. Efeknya: harga saham akan turun.

Alasan lainnya: Investor mengira perusahaan sedang tidak sehat. Dikiranya: perusahaan tidak berani mengambil hutang. Karena takut tidak kuat bayar. Takut arus kasnya tidak lancar. Kondisi ini membuat investor melepas sahamnya. Begitu kira kira.

# Kelemahan Teori Pecking Order

Teori pecking order membuat proses pendanaan lebih lama. Hitung hitungannya lebih banyak.Rapat rapatnya lebih banyak. Tahap tahapannya lebih banyak.

Rencana ekspansi: berjalan lebih lama.

Cenderung main aman. Menghindari risiko. Dalam dunia bisnis: high risk high return. Bergeraknya ada pakem pakemnya. Kurang luwes.

Anda bisa membaca teori pecking order lebih lanjut disini:
Penjelasan Teori Pecking Order dalam Struktur Modal

4. Teori Keagenan (Agency Approach)

Teori keagenan berbicara tentang hubungan antara pemegang saham dengan manajemen. Menurut teori ini: perbanyak hutang. Akan membuat nilai perusahaan akan naik.

Lho... apa hubungannya keduanya dengan struktur modal? ada pengaruhnya.

Yang disebut agen adalah manajemen. Manajemen adalah agen atau orang yang diberi wewenang dan tugas untuk mengelola perusahaan. 

Yang menyuruhnya: pemegang saham alias pemilik perusahaan.

Dimana pengaruhnya terhadap struktur modal?

Teori ini memisahkan pemegang saham dan manajemen. Dua pihak yang berbeda. Dua kepentingan yang berbeda. Yang saling bekerja sama. Idealnya.

Keduanya tidak boleh saling ikut campur. Pada pekerjaannya. Ada batasnya.

Itu idealnya. 

Di dunia nyata, yang ideal itu: sulit dicari. Atau harus dicari. Sulit untuk hadir sendiri. Hubungan ini kemudian muncul masalah. Setidaknya dua masalah. Yang utama: agen bekerja untuk keuntungan sendiri. Yang kedua: asimetri informasi.

# Agen Bekerja untuk Kepentingan Sendiri

Ini yang ditakuti oleh semua investor. Pemilik perusahaan. Mereka pasti khawatir. Agen yang mereka tunjuk akan melakukan ini: manajemen laba.

Awalnya, karena ada batasan diantara keduanya. Meski manajemen ditunjuk oleh investor. Tapi ruang gerak investor dibatasi. Tidak boleh ikut campur. Terutama dalam hal teknis. Kecuali: investor merangkap jadi manajemen. Dan langkah langkah strategis perusahaan. Yang diputuskan investor. Dalam RUPS.

Batasan ini membuat manajemen punya celah: bermain curang. Untuk keuntungannya sendiri. Manajemen menjalankan perusahaan: dengan caranya sendiri. Dengan metodenya sendiri. Dengan perkiraannya sendiri. Yang dilakukannya sendiri.

Mereka hanya perlu: melaporkan kegiatannya. Pada pemilik perusahaan. Sebagai bentuk tanggung jawabnya.

Proses pelaporan ini: ada celah kecurangan. Manajemen laba.

Manajemen bisa melaporkan angka yang bukan angkanya. Bisa menuliskan kegiatan yang tidak dilakukannya. Tanpa ketahuan.

Pemilik memang akan memeriksa laporannya: audit laporan keuangan. Tapi itupun bisa dihindari. Bisa disembunyikan. Bisa tidak ketahuan. Bisa ada suap suapan. Dan tindakan lainnya.

# Asimetri Informasi

Tugas manajemen adalah menjalankan perusahaan. Setiap hari. Mereka akan ada di perusahaan itu. Mereka keluarpun, hanya untuk keperluan perusahaan itu.

Sampai mereka hafal. Dengan sudut sudut perusahaan. Hafal dengan data data perusahaan. Tahu dengan detail rencana perusahaan. Mencermati angka angkanya. Kenal para suppliernya. Dekat dengan pelanggannya.

Manajemen tahu prospeknya. Tahu peluangnya. Tahu hambatannya. Tahu permasalahnnya. Juga solusinya.

Intinya: manajemen sangat banyak tentang perusahaan. Dan detail detailnya. Informasinya lebih lengkap dibandingkan pemilik perusahaan itu sendiri: para pemegang saham.

Pemegang saham tidak tahu sedetail manajemen. Karena mereka tidak menjalankannya.

Informasi jadi tidak seimbang. Manajemen lebih tahu daripada pemegang saham.

Ini dinamakan: asimetri informasi.

Atau ketimpangan informasi. Antara manajemen dan pemegang saham.

Apa masalahnya?

Seperti yang dijelaskan tadi: manajemen laba.

Ketidaktahuan pemegang saham bisa dimanfaatkan manajemen. Untuk mengambil keuntungan pribadi. Seperti ketika anda membeli durian. Pedagang lebih tahu: durian bagus dan durian jelek. Anda tidak tahu. Pedagang bisa saja memberikan durian yang tidak bagus. Dengan harga mahal. Karena anda tidak tahu. Penjual bisa saja memberikan informasi yang tidak benar. Atas durian yang anda beli.

Pedagang durian mendapatkan keuntungan. Karena adanya asimetri informasi.

Karena adanya masalah keagenan di atas. Teori keagenan ini menyarankan untuk memperbanyak hutang dalam struktur modal perusahaan.

Hutang akan membuat manajemen semakin diawasi. Oleh kreditor. Yang memberi utangan. Kreditur tidak mau kehilangan uang. Mereka sebisa mungkin akan mengawasi manajemen. Kreditur ingin perusahaan mempunyai arus kas yang lancar. Agar bisa membayar utangnya. Beserta bunganya.

Kreditur ingin: memastikan perusahaan bisa bayar utang. Untuk itu mereka juga akan turut mengawasi.

Semakin banyak yang mengawasi. Manajemen akan kesulitan untuk bermain curang: manajemen laba.

Artikel lebih lengkap tentang teori keagenan bisa anda lanjutkan disini:
Penjelasan Teori Keagenan: Masalah dan Cara Mengatasinya

5. Teori Asimetri Informasi dan Signaling

Teori struktur modal ini ada sejak 1970. George Akerlof yang menemukannya. Profesor di Universitas California. Amerika. Juga peraih nobel ekonomi tahun 2001. Akerlof juga yang pertama kali memunculkan istilah asimetri informasi.

Inti teori asimetri informasi:. ketimpangan informasi antara investor dan manajemen. Seperti yag sudah dijelaskan. Diatas tadi.

Inti signaling theory (teori sinyal): manajemen memberikan informasi. Dan informasi yang ditangkap oleh investor adalah sinyal. Sinyal apa?

Jika informasi yang diberikan: bagus. Maka investor akan menangkap sinyal bagus: kenaikan harga saham.

Informasi yang diberikan manajemen. Terutama informasi yang sifatnya strategis. Yang mempengaruhi struktur modal apalagi. Akan selalu menjadi sinyal bagi investor. Bisa bagus. Bisa jelek.

Jika dihubungkan dengan asimetri informasi. Teori ini: titik temunya.

Pembagian informasi berarti usaha untuk menyamakan tingkat kepemilikan informasi. Walaupun mungkin masih tidak menghilangkan asimetri sepenuhnya. Setidaknya: gapnya diperkecil.

Bagaimana sinyal yang baik itu? Kabar seperti apa?

Menurut teori ini, kabar baik itu seperti ini: perusahaan mencari utang. Atau memenuhi kebutuhannya dengan berhutang. Seperti menerbitkan obligasi. Bukan dengan menerbitkan saham baru.

Lho.. kok bisa? menambah utang justru berita bagus?

Bagus dari sisi investor. Atau calon investor. Pemegang saham perusahaan.

Bahkan bisa menaikan nilai saham mereka.

Begini kira kira alurnya.

teori struktur modal signaling

Teori signal jelas mengatakan: utang membuat harga saham meningkat. Seperti pada infografis diatas.

Anda setuju atau tidak?

Namun investor memilik gayanya masing masing. Punya analisisnya masing masing. Memiliki pandangannya masing masing. Teori signal tidak bisa dipaksakan. Untuk yang tidak setuju.

Yang pasti setuju adalah ini: informasi yang diberikan akan berdampak pada harga saham. Bisa bagus. Bisa tidak bagus.

Teori Mana yang Paling Baik ?

Sekali lagi: investor memiliki style nya sendiri. Teori diatas hanyalah teori. Yang ditangkap dari fenomena fenomena yang terjadi. Yang diteliti dan disimpulkan. Dengan argumen ilmiah yang mereka -para peneliti- ciptakan. Dan bisa dipertanggungjawabkan.

Ke 6 teori tersebut: jadikan referensi. Mungkin ada yang cocok. Dan ada yang tidak cocok. Pengalaman tiap orang berbeda. Prosesnya berbeda. Hasilnya juga berbeda.

Kalau anda, cenderung suka teori yang mana? Beritahu saya dan diskusikan dikolom komentar. Terima kasih.

Posting Komentar untuk "6 Teori Struktur Modal: Teori ini yang paling baik?"